Selamat datang

GMKI LUWUK ►►PERHATIAN WEB INI MASIH TAHAP PERBAIKAN sebagian button mungkin tidak berfungsi!!!

Saturday, October 19, 2013

Pelatihan Kewirausahaan Pemuda Kristen Kab. Banggai 2013

Suasana Pelatihan
Prihatin dengan makin meningkatkan jumlah angkatan kerja di Kabupaten Banggai yang tidak sebanding dengan jumlah serapan di lapangan pekerjaan yang ada, maka sebagai organisasi yang bergerak pada pemberdayaan pemuda, GMKI turut bertanggungjawab pada masa depan generasi muda khususnya generasi muda Kristen di Kabupaten Banggai dalam mendapatkan kehidupan yang baik.

Sadar akan tanggungjawab tersebut, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Luwuk bekerja sama dengan Yayasan Bina Darma Salatiga dengan dukungan dari KNPI Kabupaten Banggai menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Kewirausahaan bagi Pemuda Kristen se-Kabupaten Banggai.

Kegiatan yang dibuka oleh Imanuel Monggesang,SE Ketua BPC GMKI Luwuk, dilaksanakan pada tanggal 17-18 Oktober 2013 di Luwuk tepatnya di gedung Pemuda/KNPI Kabupaten Banggai ini diikuti sebanyak 35 Peserta yang berasal dari Utusan GMKI Cabang Luwuk, SMA GKLB dan Utusan Gereja.

Tampil sebagai fasilitator tunggal yaitu Bapak Andeka Rocky Tanaamah, SE, MCs yang merupakan Sekretaris Yayasan Bina Darma Salatiga. Materi dalam pelatihan tersebut, antara lain: Menjadi Wirausaha, Berpikir Perubahan, Berpikir Kreatif, Pengambilan Resiko, Kepemimpinan, Etika Bisnis, Mencari Gagasan Usaha, Manajemen Keuangan dan Pembiayaan Usaha dan Menyususn Proposal Rencana Bisnis. Selain itu, peserta juga berkesempatan mendengarkan cerita kesuksesan usaha keripik dari mas Toto pemilik usaha Keripik "Wahyu"

Kegiatan selama dua hari tersebut ditutup oleh Imanuel Monggesang,SE Ketua BPC GMKI Luwuk yang berpesan agar apa yang telah didapatkan kiranya dapat dikembangkan sehingga dimasa yang akan datang tidak ada lagi pertanyaan "Anda kerja dimana" tetapi pertanyaannya adalah "Bagaimana usahamu sekarang". 
*IM

Monday, September 2, 2013

Kemerdekaan dan Masa Depan Indonesia:

Suatu Refleksi Teologis1
oleh: Pdt. Prof. Drs. Jhon Adrian. Titaley, Th.D

Pengantar
Pluralitas masyarakat Indonesia merupakan suatu tantangan (chalange) dan sekaligus peluang (opportunity) yang jarang sekali terjadi dalam sejarah umat manusia, terutama dalam perspektif agama. Tantangan karena keragaman agamanya, terutama agama-agama dunia, dapat menjadi sumber bagi lahirnya konflik yang sangat serius dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, termasuk juga beragama. Bawaan nilai-nilai moral, etis dan spiritual agama-agama dunia yang inherent, terutama karena agama-agama dunia belum berpengalaman hidup dalam satu lingkungan sosial yang sama, dapat menjadi pemicu terciptanya konflik-konflik tersebut. Peluang, karena kalau keragaman agama itu bisa tertangani secara tepat, kemungkinan konflik itu bisa berubah menjadi dukungan moral, etis dan spiritual yang positif bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan beragama. Maka, pengalaman Indonesia bisa menjadi suatu sumbangan yang sangat dibutuhkan oleh manusia masa kini. Dari waktu ke waktu, entah itu dalam dirinya sendiri agama mengandung sikap-sikap yang eksklusif atau diperalat oleh para pengikutnya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, agama dapat mengakibatkan kehancuran bagi kemanusiaan itu sendiri. Lewat agama dapat tercipta perbedaan kelas manusia, yang pada asasnya merupakan pengingkaran terhadap keberadaan manusia itu sendiri. Dalam kerangka inilah, kasus Indonesia menjadi sangat penting.

Tuesday, August 27, 2013

Mahasiswa Kristen se Asia Pasifik berkumpul di Manila membicarakan Komersialisasi Pendidikan


gmki.or.id. World Student Christian Federation regional Asia Pacific (WSCF AP) setiap tahunnya mengadakan kegiatan human right justice and peace (HRJP). Tema HRJP tahun ini adalah “Voices from the Margins in an era of commercialization of education: Students Reclaiming Rights to Education for All”  kegiatan yang berlangsung di Manila ini dihadiri oleh lima belas Student Christian Movement (SCM) dari total 20 SCM WSCF di regional Asia Pacific. Kelima belas negara tersebut adalah Indonesia (GMKI), Malaysia, Thailand, Kamboja, Taiwan, Myanmar, Banglades, India, Nepal, Filipina, Australia, New Zealand, Hongkong, Jepang, dan Korea Selatan. Kegiatan ini akan berlangsung selama 24 – 30 Agustus 2013 di Communication Foundation for Asia, Manila, Filipina.
Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) mengutus sdr. Ayub Pongrekun, yang merupakan Sekretaris Fungsi Bidang Komunikasi dan Hubungan Internasional Pengurus Pusat GMKI. Pada hari ini (25/8), tiap tiap SCM diberikan kesempatan untuk menyampaikan mengenai kondisi pendidikan di Negaranya masing-masing, menyangkut sistem pendidikan dan persoalan yang dihadapi dalam dunia pendidikan. 
Sesuai dengan temanya, HRJP tahun ini fokus membicarakan persoalan komersialisasi pendidikan. Selain menyampaikan soal kondisi pendidikan di Indonesia yang semakin mengikuti liberlisasi pasar dan semakin meningkatnya komersialisasi pendidikan, GMKI juga menyampaikan persoalan pendidikan yang belum merata di Indonesia, terutama di daerah-daerah terpencil dan di daerah perbatasan Indonesia. Kondisi pendidikan di pedalaman Papua, Papua Barat dan kondisi di daerah Kaliantan Timur dan Barat menjadi hal yang diangkat oleh delegasi GMKI mengenai kondisi pendidikan di perbatasan Indonesia.

Sumber: PP GMKI

Wednesday, August 14, 2013

Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya

Memangnya Dia Bisa Merobek Bendera Itu Sendirian
Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya (3-Habis)

Setelah hampir 25 tahun tinggal di Sydney, Australia,  Soemarsono sempat ke Surabaya. Tujuh tahun yang lalu. Yakni ketika dia ke Jakarta untuk menengok anak-anaknya. Kali ini dia ke Indonesia sebagai orang asing. Ia ingin tahu bagaimana keadaan Kota Surabaya. Kota yang pada 1945 melakukan pertempuran besar dan dialah salah seorang tokoh utamanya. Dia juga sempat ke Jalan Peneleh untuk melihat rumahnya yang bersejarah itu.

Monday, August 5, 2013

Pernyataan Sikap PP GMKI mengenai ledakan di Vihara Ekayana

PENGURUS PUSAT GERAKAN MAHASISWA KRISTEN INDONESIA
ATAS LEDAKAN DI VIHARA EKAYANA
Senin, 05 Agustus 2013
Apapun yang menjadi alasan pelaku dalam Ledakan di Vihara Ekayana tidak dapat dibenarkan secara rasio karena dapat memicu ketidak harmonisan kehidupan dalam bermasyarakat yang berpotensi kearah konflik horisontal dalam hal ini yang dirugikan tentunya masyarakat luas yang terprovokasi oleh ulah manusia yang tidak mengerti kehadirannya di dunia ini. Pengurus Pusat GMKI prihatin disaat pengakuan, penghormatan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia menjadi bagian penting dalam negara hukum indonesia akan tetapi pengeboman ini menjadi bukti nyata negara belum maksimal dalam memproteksi kehadiran kaum ekstrimis yang sejatinya merusak tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ledakan di Vihara Ekayana harus di maknai sebagai kritik terhadap ketidak maksimalan negara dalam menjalankan fungsinya tapi perbuatan tersebut tidak dapat dibenarkan secara moral dan agama. Pengurus Pusat GMKI dalam hal ini menyatakan sikapnya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, yakni:
(1).     Pengurus Pusat GMKI menyayangkan Ledakan di Vihara Ekayana merupakan perbuatan oknum manusia yang tidak mengerti kehadirannya di dunia ini, karena perbuatan tersebut merupakan wujud ketidak pahaman dari indahnya keharmonisan dalam bingkai perbedaan dan perbuatan tersebut patut di sayangkan.
(2).     Ledakan di Vihara Ekayana tidak dapat dibenarkan perbuatannya oleh agama manapun yang diakui dinegara ini, karena sejatinya agama bermanfaat mendidik manusia untuk berani menegakkan kebenaran dan takut untuk melakukan kesalahan
(3).     Pengurus Pusat GMKI Menuntut segera agar negara menangkap pelaku Ledakan di Vihara Ekayana agar tidak menjadi larut dalam pembahasan yang tidak berujung pada kepuasan masyarakat yang peduli terhadap keharmonisan kehidupan dalam bermasyarakat yang plural.
(4).     Menghukum pelaku Ledakan di Vihara Ekayana  seberat-beratnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di Negara Republik Indonesia ini, agar perbuatan yang sama tidak terulang kembali.
(5).     Menghimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak terprovokasi untuk bertindak anarkis sebagai wujud respon terhadap Ledakan di Vihara Ekayana.
(6).     Mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk kembali memahami esensi dari kehadiran manusia sebagai ciptaan Tuhan di dunia ini dan kembali mengamalkan ajaran agama masing-masing demi tercapainya Indonesia yang berkeadilan.
Demikian respon PP GMKI terhadap Ledakan di Vihara Ekayana oleh oknum manusia yang tidak bertanggungjawab, kiranya negara kembali peka agar hal serupa tidak terulang kembali dan rakyat tidak selalu menjadi korban karena ketidak pekaan negara untuk mendeteksi kejadian-kejadian serupa. Rakyat menjadi sentral perhatian betapa mereka telah terabaikan oleh negara, yang begitu senjang dari cita tujuan penyelenggaraan bernegara. Terima Kasih…!
Ut Omnes Unum Sint

Sumber: