Selamat datang

GMKI LUWUK ►►PERHATIAN WEB INI MASIH TAHAP PERBAIKAN sebagian button mungkin tidak berfungsi!!!

Thursday, November 21, 2013

MAPER: Penerimaan Anggota Baru GMKI Cabang Luwuk Tahun 2013

Shalom. GMKI Cabang Luwuk mebuka penerimaan anggota baru yang dikemas dalam kegiatan Masa Perkenalan. Ketua BPC GMKI Luwuk Bung Imanuel Monggesang menyatakan bahwa tujuan kegiatan ini untuk menjamin proses kaderisasi dan regenerasi dalam organisasi GMKI khususnya di Cabang Luwuk. Agar tujuan dan proses Maper tersebut berjalan dengan baik, BPC GMKI Luwuk telah membentuk Panitia Pelaksana yang sekaligus juga mempersiapkan pelaksanaan Konperensi Cabang V GMKI Luwuk tahun 2013.

Kegiatan Maper tersebut direncanakan akan digelar di Luwuk pada tanggal 4 s/d 6 Desember 2013. Saat ini BPC dan Panitia sedang dilakukan sosialisasi kepada mahasiswa Kristen yang berada di beberapa perguruan tinggi dalam Luwuk, antara lain Kampus Universitas Tompotika, Universitas Muhammadiyah, AMIK Nurmal dan AKPER Luwuk.







Saturday, October 19, 2013

Pelatihan Kewirausahaan Pemuda Kristen Kab. Banggai 2013

Suasana Pelatihan
Prihatin dengan makin meningkatkan jumlah angkatan kerja di Kabupaten Banggai yang tidak sebanding dengan jumlah serapan di lapangan pekerjaan yang ada, maka sebagai organisasi yang bergerak pada pemberdayaan pemuda, GMKI turut bertanggungjawab pada masa depan generasi muda khususnya generasi muda Kristen di Kabupaten Banggai dalam mendapatkan kehidupan yang baik.

Sadar akan tanggungjawab tersebut, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Luwuk bekerja sama dengan Yayasan Bina Darma Salatiga dengan dukungan dari KNPI Kabupaten Banggai menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Kewirausahaan bagi Pemuda Kristen se-Kabupaten Banggai.

Kegiatan yang dibuka oleh Imanuel Monggesang,SE Ketua BPC GMKI Luwuk, dilaksanakan pada tanggal 17-18 Oktober 2013 di Luwuk tepatnya di gedung Pemuda/KNPI Kabupaten Banggai ini diikuti sebanyak 35 Peserta yang berasal dari Utusan GMKI Cabang Luwuk, SMA GKLB dan Utusan Gereja.

Tampil sebagai fasilitator tunggal yaitu Bapak Andeka Rocky Tanaamah, SE, MCs yang merupakan Sekretaris Yayasan Bina Darma Salatiga. Materi dalam pelatihan tersebut, antara lain: Menjadi Wirausaha, Berpikir Perubahan, Berpikir Kreatif, Pengambilan Resiko, Kepemimpinan, Etika Bisnis, Mencari Gagasan Usaha, Manajemen Keuangan dan Pembiayaan Usaha dan Menyususn Proposal Rencana Bisnis. Selain itu, peserta juga berkesempatan mendengarkan cerita kesuksesan usaha keripik dari mas Toto pemilik usaha Keripik "Wahyu"

Kegiatan selama dua hari tersebut ditutup oleh Imanuel Monggesang,SE Ketua BPC GMKI Luwuk yang berpesan agar apa yang telah didapatkan kiranya dapat dikembangkan sehingga dimasa yang akan datang tidak ada lagi pertanyaan "Anda kerja dimana" tetapi pertanyaannya adalah "Bagaimana usahamu sekarang". 
*IM

Monday, September 2, 2013

Kemerdekaan dan Masa Depan Indonesia:

Suatu Refleksi Teologis1
oleh: Pdt. Prof. Drs. Jhon Adrian. Titaley, Th.D

Pengantar
Pluralitas masyarakat Indonesia merupakan suatu tantangan (chalange) dan sekaligus peluang (opportunity) yang jarang sekali terjadi dalam sejarah umat manusia, terutama dalam perspektif agama. Tantangan karena keragaman agamanya, terutama agama-agama dunia, dapat menjadi sumber bagi lahirnya konflik yang sangat serius dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, termasuk juga beragama. Bawaan nilai-nilai moral, etis dan spiritual agama-agama dunia yang inherent, terutama karena agama-agama dunia belum berpengalaman hidup dalam satu lingkungan sosial yang sama, dapat menjadi pemicu terciptanya konflik-konflik tersebut. Peluang, karena kalau keragaman agama itu bisa tertangani secara tepat, kemungkinan konflik itu bisa berubah menjadi dukungan moral, etis dan spiritual yang positif bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan beragama. Maka, pengalaman Indonesia bisa menjadi suatu sumbangan yang sangat dibutuhkan oleh manusia masa kini. Dari waktu ke waktu, entah itu dalam dirinya sendiri agama mengandung sikap-sikap yang eksklusif atau diperalat oleh para pengikutnya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, agama dapat mengakibatkan kehancuran bagi kemanusiaan itu sendiri. Lewat agama dapat tercipta perbedaan kelas manusia, yang pada asasnya merupakan pengingkaran terhadap keberadaan manusia itu sendiri. Dalam kerangka inilah, kasus Indonesia menjadi sangat penting.

Tuesday, August 27, 2013

Mahasiswa Kristen se Asia Pasifik berkumpul di Manila membicarakan Komersialisasi Pendidikan


gmki.or.id. World Student Christian Federation regional Asia Pacific (WSCF AP) setiap tahunnya mengadakan kegiatan human right justice and peace (HRJP). Tema HRJP tahun ini adalah “Voices from the Margins in an era of commercialization of education: Students Reclaiming Rights to Education for All”  kegiatan yang berlangsung di Manila ini dihadiri oleh lima belas Student Christian Movement (SCM) dari total 20 SCM WSCF di regional Asia Pacific. Kelima belas negara tersebut adalah Indonesia (GMKI), Malaysia, Thailand, Kamboja, Taiwan, Myanmar, Banglades, India, Nepal, Filipina, Australia, New Zealand, Hongkong, Jepang, dan Korea Selatan. Kegiatan ini akan berlangsung selama 24 – 30 Agustus 2013 di Communication Foundation for Asia, Manila, Filipina.
Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) mengutus sdr. Ayub Pongrekun, yang merupakan Sekretaris Fungsi Bidang Komunikasi dan Hubungan Internasional Pengurus Pusat GMKI. Pada hari ini (25/8), tiap tiap SCM diberikan kesempatan untuk menyampaikan mengenai kondisi pendidikan di Negaranya masing-masing, menyangkut sistem pendidikan dan persoalan yang dihadapi dalam dunia pendidikan. 
Sesuai dengan temanya, HRJP tahun ini fokus membicarakan persoalan komersialisasi pendidikan. Selain menyampaikan soal kondisi pendidikan di Indonesia yang semakin mengikuti liberlisasi pasar dan semakin meningkatnya komersialisasi pendidikan, GMKI juga menyampaikan persoalan pendidikan yang belum merata di Indonesia, terutama di daerah-daerah terpencil dan di daerah perbatasan Indonesia. Kondisi pendidikan di pedalaman Papua, Papua Barat dan kondisi di daerah Kaliantan Timur dan Barat menjadi hal yang diangkat oleh delegasi GMKI mengenai kondisi pendidikan di perbatasan Indonesia.

Sumber: PP GMKI

Wednesday, August 14, 2013

Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya

Memangnya Dia Bisa Merobek Bendera Itu Sendirian
Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya (3-Habis)

Setelah hampir 25 tahun tinggal di Sydney, Australia,  Soemarsono sempat ke Surabaya. Tujuh tahun yang lalu. Yakni ketika dia ke Jakarta untuk menengok anak-anaknya. Kali ini dia ke Indonesia sebagai orang asing. Ia ingin tahu bagaimana keadaan Kota Surabaya. Kota yang pada 1945 melakukan pertempuran besar dan dialah salah seorang tokoh utamanya. Dia juga sempat ke Jalan Peneleh untuk melihat rumahnya yang bersejarah itu.